Memilih warna tidak perlu rumit. Anda hanya perlu melihat fungsi ruang, warna yang sudah ada, pencahayaan, dan ukuran furnitur.
Jangan memilih hanya dari foto di layar. Warna asli dapat terlihat berbeda saat terkena cahaya atau dipadukan dengan lantai, dinding, dan tirai.
1. Tentukan suasana yang diinginkan
Mulailah dengan tiga kata yang menggambarkan ruangan. Contohnya: hangat, tenang, dan sederhana.
Warna netral seperti beige, abu-abu, cokelat, dan putih gading mudah dipadukan. Warna biru atau hijau dapat menjadi aksen yang terasa segar. Warna merah, kuning, atau warna pekat dapat menarik perhatian, tetapi sebaiknya disesuaikan dengan ukuran furnitur dan konsep ruang.
Pilih warna yang mendukung fungsi dan suasana yang Anda inginkan.
2. Lihat warna yang sudah ada
Perhatikan empat bagian: dinding, lantai, furnitur kayu, dan tirai. Warna upholstery tidak harus sama, tetapi perlu terlihat selaras.
Gunakan cara sederhana berikut:
- Pilih satu warna utama untuk bagian terbesar ruangan.
- Pilih satu warna pendamping untuk furnitur.
- Tambahkan satu warna aksen pada bantal atau dekorasi kecil.
Jika ruangan sudah mempunyai banyak warna, gunakan upholstery yang lebih tenang. Jika ruangan netral, upholstery dapat menjadi titik perhatian.
3. Sesuaikan dengan gaya interior
Untuk gaya minimalis, pilih warna sederhana dan mudah dipadukan. Beige, abu-abu, cokelat muda, atau biru gelap dapat menjadi titik awal.
Untuk gaya Japandi atau Skandinavia, gunakan warna alami. Padukan kain dengan kayu terang, putih hangat, atau warna tanah.
Untuk gaya modern, Anda dapat memakai warna kontras. Contohnya sofa biru gelap di ruangan berwarna putih dan abu-abu. Pastikan warna kontras muncul kembali pada elemen kecil agar ruangan tetap menyatu.
4. Periksa pencahayaan
Cahaya matahari dan lampu dapat mengubah tampilan warna. Warna yang terlihat terang di toko bisa tampak lebih gelap di rumah.
Bawa sampel ke ruangan, lalu periksa pada pagi, siang, dan malam. Letakkan sampel dekat dinding, lantai, dan furnitur lain. Jangan menilai warna dengan cepat.
Jika ruangan kurang cahaya, pertimbangkan warna yang tidak terlalu gelap. Untuk ruangan terang, periksa apakah warna tetap nyaman dilihat saat terkena cahaya langsung.
5. Pertimbangkan penggunaan sehari-hari
Pikirkan siapa yang menggunakan furnitur. Rumah dengan anak, hewan peliharaan, atau banyak tamu mungkin membutuhkan warna dan motif yang lebih mudah dikelola.
Warna terang dapat memberi kesan bersih, tetapi noda bisa lebih terlihat. Warna gelap dapat menyamarkan noda tertentu, tetapi debu juga mungkin terlihat. Apa pun warnanya, cara perawatan tetap mengikuti petunjuk produk.
Contoh koleksi Regency
Vienna memiliki pilihan warna one-tone dan two-tone untuk berbagai kebutuhan interior. Produk ini dapat digunakan untuk sofa, kursi, beanbag, dan tirai.
Amadeus adalah kain upholstery polyester bertekstur beludru dengan banyak pilihan warna.
Cannesa adalah kulit sintetis untuk upholstery sofa dengan pilihan warna netral dan tekstur Nappa.
Checklist sebelum membeli
- Konsep dan suasana ruang sudah ditentukan.
- Warna dinding, lantai, kayu, dan tirai sudah dibandingkan.
- Sampel sudah dilihat pagi, siang, dan malam.
- Warna sudah diperiksa bersama material lain.
- Fungsi ruang dan kebiasaan pengguna sudah dipikirkan.
- Nama produk, warna, stok, dan satuan jual sudah dikonfirmasi.
Kesimpulan
Pilih warna upholstery dengan melihat ruangan secara keseluruhan. Tentukan suasana, cocokkan dengan elemen yang ada, lalu periksa sampel pada pencahayaan berbeda. Langkah ini lebih aman daripada memilih berdasarkan foto.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah warna sofa harus sama dengan tirai?
Tidak. Warnanya boleh berbeda selama masih selaras dengan konsep ruangan.
Mengapa sampel fisik penting?
Sampel menunjukkan warna dan tekstur yang lebih dekat dengan kondisi asli.
Berapa banyak warna utama dalam satu ruangan?
Mulailah dengan satu warna utama, satu pendamping, dan satu aksen agar mudah diatur.